[KENAL MEMBER] AGUSTIN OENDARI, PELAJARAN HIDUP DAN PENANTIAN PANJANG ALBUM DEBUTNYA


Nama lengkapnya Agustin Oendari, tapi kadang ia dipanggil Oendari, atau paling sering dipanggil Botin.

Selama enam tahun terakhir ini, Oendari menggeluti pekerjaan sebagai penyanyi, penulis lagu, dan belakangan semakin sering didapuk jadi vocal director.

Walaupun asli Betawi, lahir dan besar di Jakarta, sudah satu dekade terakhir Oendari tinggal dan bekerja di Karawaci, Tangerang.



Oendari lahir sebagai anak bontot dari tiga bersaudara, perempuan semua.

Meskipun sejak kecil selalu dimotivasi oleh orangtuanya untuk mencapai prestasi akademik dan aktif dalam kegiatan organisasi, ia selalu menemukan dirinya tenggelam dan terhanyut di dalam seni. Mulai dari piano, gitar, dan bahkan melukis, lalu berlanjut dengan latihan vokal rutin selama tujuh belas tahun penuh, sampai akhirnya ia menemukan kecintaannya pada penulisan lagu.


Sebetulnya saat pertama kali terjun ke dunia musik pada tahun 2011, ia lebih memilih untuk ada di belakang layar, baik menjadi manajer band, menulis lagu, dan jadi backing vokal. Namun, ternyata hidup mengarahkannya ke jalan yang berbeda.



Pendapat Tentang Musik dan Menjadi Musisi


“Music is the only thing that gets along very well with all my craziness while I’m maintaining my sanity. And, even more, music has not only been a personal therapist slash mental trainer to me. Way more than that, music has been being a good old friend to my deepest soul, mengingat aku bukanlah orang yang secara natural gampang bergaul, music has played a great role, for without it I would feel empty.”
-Agustin Oendari-

Sebagian besar alasan Oendari membuat musik adalah untuk memberikan jawaban bagi mereka yang merasa sendirian karena kurang populer di pergaulan, bagi mereka yang sering terjebak di dalam pikirannya sendiri, dan bagi yang jiwanya butuh teman yang bisa mendengarkan atau menenangkan tanpa menghakimi. Oendari secara khusus mendedikasikan musiknya untuk mereka semua dan demi mereka semua,


Bagi Oendari, musik adalah bahasa yang bisa memersatukan manusia dengan cara yang ajaib lewat diksi, intonasi, emosi, ekspresi, melodi, dan ritme.

Kekuatan musik bisa menggugah manusia untuk menangis, sementara di lain kesempatan, musik bisa membangkitkan amarah dan menggerakkan agresi, atau bahkan mungkin juga melembutkan hati para pendengarnya sehingga perdamaian bisa tercipta.

Musisi adalah kaum superhuman yang di dalam dirinya terkandung kekuatan

besar yang mampu mewujudkan semua itu.


Perjalanan Menulis dan Merilis Lagu serta Sedikit Soal Vocal Directing

Setelah sekian lama belum sempat dirilis karena terhalang jadwal produksi dan kegiatan harian mengurus ROEMAHIPONK Music Studio dan Big Hello Records, tempatnya bekerja, akhirnya tak lama lagi Oendari akan merilis album debut.

Album debut yang direncanakan akan rilis awal 2021 ini tidak semuanya berisi lagu-lagu sedih patah hati yang menyayat-nyayat nadi sebagaimana spesialisasi Oendari selama ini di mata orang-orang yang sudah pernah mendengar karya-karyanya, namun akan ada juga lagu-lagu lain yang bernuansa berbeda.


Album ini sebenarnya pengerjaannya sudah diinisiasi mulai tahun 2014. Pertama kali, nama yang diberikan untuk album ini adalah Album Sinematika. Sejak itu, lima lagu sudah selesai diproduksi di bawah judul album ini. Dua dari antaranya bahkan telah dirilis secara mandiri yaitu Blue Sky Thinking dan Cinta Yang Bisu yang mendapatkan respon yang positif serta placement yang bagus di New Music Friday Indonesia, Pojok Akustik, dan Indinesia di Spotify.




Namun, karena satu dan lain hal rumit yang terjadi di dalam kehidupan pribadi Oendari, project Album Sinematika harus tertunda.

2014 menjadi tahun di mana seorang Agustin Oendari yang sejak kecil mengaku terbiasa menjadi control-freak itu, harus mengalah dengan kenyataan hidupnya kala itu, sementara itu di tahun yang sama, Oendari juga tanpa diduga mendapatkan

kesempatan pertama untuk merilis lagu sendiri yang sekaligus dijadikan soundtrack film berjudul "Selamat Pagi Malam". Oendari sendiri merasa kaget bisa mendapatkan kesempatan langka semacam itu. Itu menjadi semacam "pure luck" baginya.



Pada tahun 2015 Oendari resmi bekerja di ROEMAHIPONK dan menangani urusan hari per hari pada tahun itu, terutama urusan pengembangan ROEMAHIPONK Music Studio dan ROEMAHIPONK Coffee House yang baru mulai berdiri. Bukan pekerjaan mudah tapi masih bisa dilalui Oendari dengan belajar pelan-pelan.


Di tahun yang sama Oendari secara intens mulai kerja bareng Eyang Titiek Puspa sebagai vocal arranger dan vocal director untuk Eyang dan proyeknya Duta Cinta. Bersama dengan Mas Iponk dan ABRAM (salah satu produser yang juga terlibat dalam proyek ini), Oendari menulis sebuah lagu berjudul "Lagu Untuk Bunda", dan dan berperan sebagai vocal director untuk proyek album ini.

Tantangan yang cukup berat bagi Oendari tapi untungnya bisa ia lalui dengan baik dan sampai sekarang,

walaupun Duta Cinta-nyasudah tak aktif lagi, silaturahmi Oendari dengan Eyang dan anak-anak Duta Cinta masih terjaga.



Kerjaan Oendari sebagai pengarah vokal alias vocal director pun semakin bertambah sejak itu. Salah satu yang paling berkesan baginya adalah saat mengerjakan album kompilasi Iwan Fals berjudul SATU, di mana ia harus mengarahkan vokal Momo Geisha di bawah pengawasan produser Steve Lillywhite (Produser U2, Counting Crows, Dave Matthews. dan beberapa artis lain). Pada saat itu Oendari sempat berselisih paham dengan Steve saat mengarahkan vokal. Itulah pertama kalinya Oendari bekerja sama dengan produser kaliber internasional tetapi langsung terlibat perselisihan, namun untungnya bisa diselesaikan dengan baik, bahkan Oendari sempat mengantar Steve pulang karena saat itu ia baru pertama tinggal di Indonesia, belum punya mobil dan belum kenal jalan.



Masih di tahun 2015, salah satu yang juga menyebabkan rilis albumnya tertunda adalah Oendari mengalami sebuah kejadian penting yang sedikit banyak membuatnya ingn mundur dari banyak hal, termasuk dalam hal merilis lagu atas namanya sendiri. Mengenai apa yang terjadi, Oendari belum siap mengungkapkannya saat ini namun intinya di tahun itu ia merasa dirinya mendapat pelajaran bahwa dalam hidup juga perlu untuk berlapang dada dan berserah diri.


Tahun 2016 memberikan Oendari pelajaran baru lagi dalam hidup yaitu bersyukur. Baik dan buruk, bersyukur. Sulit ataupun mudah, bersyukur. Sedikit demi sedikit pelajaran bersyukur ini mengubah cara pandangnya terhadap hal-hal yang terjadi dan dialami di dalam hidup.


Pada tahun ini juga, Oendari mendapat satu kesempatan lagi merilis lagu-lagunya untuk film yaitu untuk film berjudul "Galih Dan Ratna". Ia bersyukur karena ia bisa mulai kembali menguatkan diri dan mengumpulkan keberanian menulis dan memproduksi lagu lagi. Bahkan, Oendari mendapatkan kesempatan untuk tampil di panggung besar,

JOOX Concert untuk menampilkan soundtrack "Galih Dan Ratna" bersama sederetan musisi yang ia kagumi, seperti White Shoes & The Couples Company, GAC, dan Rendy Pandugo. Sungguh momen yang sangat berkesan bagi Oendari.



2017, 2018, 2019. Kuat. Kuat. Kuat.

Banyak hal dan banyak perjuangan di ketiga tahun ini yang semuanya mengajari Oendari untuk jadi kuat. Ia merasa bahwa hidup tak akan semakin mudah tapi ia akan selalu semakin kuat untuk menghadapinya.

Dalam kurun waktu itu, Oendari mulai berani rilis lagu sendiri lagi. Ada lagu berjudul "HIM", rilis ulang lagu "Selamat Pagi Malam" yang sempat hilang dari peredaran selama beberapa tahun, lagu "Bend Down" (berkolaborasi dengan High Therapy), dan lagu "LHSW" yang ternyata juga mendapat banyak respon positif seperti beberapa rilisan lagu sebelumnya.


"HIM" menjadi salah satu lagu rilisan independen yang ternyata, walaupun dirilis secara mandiri, bisa menuai banyak stream.



"Selamat Pagi Malam" dan "Bend Down" masuk ke dalam deretan nominasi AMI Awards.



Bahkan, "LHSW" sempat menjadi salah satu lagu kesayangannya JOOX Indonesia dan muncul di banner utama, dan bahkan sempat diundang untuk hadir di panggung intimate-nya Sofar Sounds Jakarta.



Berkaca pada beberapa kesuksesan itu, Oendari pun mulai berani mengelola proyek produksi, bahkan pada akhirnya berani memutuskan untuk mendirikan label rekaman independen yaitu Big Hello Records. Sebuah keputusan yang cukup nekat juga di industri yang berkembangnya masih pelan-pelan di Indonesia. Bukan ladang mudah,

tapi Oendari yang sudah ditempa oleh banyak pelajaran hidup di waktu-waktu sebelumnya merasa sudah siap secara emosional dan mental untuk menghadapi tantangan berikutnya.


2020 adalah tahun tantangan bagi Oendari.

Pada bulan-bulan pertama, klien songwriting dan vocal production di ROEMAHIPONK Music Studio langsung membludak. Ia pun menjadi sangat sibuk namun tetap bersyukur atas semua limpahan pekerjaan yang hampir tidak berhenti.

Salah satu pekerjaan mengarahkan vokal pada tahun ini, tentunya proyek Weird Genius yaitu "LATHI" yang ia kerjakan produksi vokalnya bareng dengan Mas Iponk, Lagu "LATHI" tanpa diduga menarik perhatian audiens secara global. Tak ada yang menyangka sama sekali.



Tapi kemudian industri musik terkena dampak pandemi COVID-19. Pemasukan sangat minim dan lebih banyak lagi tantangan yang terpaksa harus dihadapi Oendari.

Namun justru di masa sulit tersebut, ia lebih bisa fokus menemukan diri sendiri dan menemukan tujuan utama ROEMAHIPONK Music Studio, ROEMAHIPONK Coffee House, Big Hello Records, serta menemukan banyak makna baru, termasuk

makna baru bagi Album Sinematika yang selama ini tertunda.


Oendari akhirnya memutuskan untuk membangkitkan lagi Album Sinematika yang sempat mati suri enam tahun, termasuk menggarap ulang tiga buah lagu yang tersimpan bertahun-tahun sebenarnya sudah selesai produksi kala itu, Nama “Sinematika” pun akhirnya berganti peran jadi konsep utama yang menaungi album ini di bawah sebuah judul baru yang masih dirahasiakan sampai pada waktu yang tepat nanti. Secara khusus Oendari pun memohon doa restu dari semua teman-teman DISTORSI, semoga persiapannya untuk merilis album debut di tahun 2021 nanti bisa berjalan lancar.


Orang Yang Berperan Besar Dalam Perjalanan Musik Oendari


Setiap kali diminta untuk menceritakan tentangnya, Oendari tak lupa selalu menceritakan sosok yang berperan paling besar dalam perjalanannya bermusik yaitu

Ivan Gojaya yang lebih dikenal dengan sebutan Iponk.



Enam tahun lalu, Oendari merasa seperti diselamatkan oleh Mas Iponk yang saat itu mempercayakan padanya pekerjaan menulis dan menyanyikan lagu untuk film Selamat Pagi Malam untuk pertama kalinya. Seterusnya, sampai sekarang, Mas Iponklah yang terus memotivasi Oendari untuk tetap berkarya, baik sebagai singer-songwriter ataupun sebagai vocal director.

Bagi orang-orang yang pernah bertemu, mungkin sosok dan pembawaannya Mas Iponk biasa saja, layaknya musisi asal Bandung yang ramah, murah senyum, dan suka becanda. Tapi menurut Oendari, siapapun yang pernah kerja bareng Mas Iponk pasti tahu bahwa kalau dalam urusan musik dan audio beliau ini serius sekali.

Enam tahun terakhir, Oendari belajar banyak dari Mas Iponk.


Beliau adalah seorang produser sekaligus audio engineer. Sejak pertama kali menjalankan studio produksi pada tahun 2009 sampai sekarang, Mas Iponk sudah mengerjakan berbagai project musik dan audio, antara lain iklan-iklan XL Axiata, Tokopedia, Yamaha Motor Indonesia, Marlboro, Pepsodent, Netflix, dan Close-Up. Film & series yang dikerjakannya pun gak sedikit, beberapa di antaranya adalah Selamat Pagi Malam, Galih dan Ratna, Kokoro No Tomo Pop-nya Metro TV, The Fox Exploit’s The Tiger’s Might, dan Susah Sinyal. Diam-diam (karena memang jarang banget update di social media) sebenarnya Mas Iponk sudah berkolaborasi dengan banyak sekali musisi Indonesia, antara lain GAC, Rich Brian, NIKI, Ramengvrl, Mattermos, Hondo, Prince Husein, Weird Genius, Rahmania Astrini, Trisouls, Hanin Dhiya, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Tak jarang dalam project-projectnya, Mas Iponk mengajak Oendari turut serta untuk belajar dari setiap musisi dengan segala kepribadian dan gaya bermusik yang berbeda-beda. Oendari sudah merasakan jatuh-bangun dalam setiap proyek, belajar soal teknis produksi dari nol, susah-senang berhadapan dengan banyak orang, dijadikan sasaran kemarahan juga sudah pernah,

Semua pengalaman itu mengajarkan dan membekali Oendari untuk menjadi Oendari yang sekarang, jadi ia merasa tak adil kalau ia tidak menyebutkan peran besar Mas Iponk atas apapun yang bisa ia capai sampai saat ini.


Profil dan Ringkasan Perjalanan Musik dan Oendari


Ringkasan perjalanan karir bermusik Oendari tertuang dalam setiap profilnya di semua platform media, termasuk di Spotify sebagaimana berikut :


Oendari has made a name for herself as a singer-songwriter by creating dynamic and engaging soundtracks for films, such as Lucky Kuswandi’s "Selamat Pagi Malam" (In The Absence of The Sun, 2014). She also performed her original compositions for “Galih & Ratna (Original Motion Picture Soundtrack)” (2017), such as “Dari Rindu Kepada Rindu”, “Nyatanya Sementara”, and wrote some other songs for the film. Those other songs are "Dadidam" performed by Audrey Tapiheru, "Sebuah Nama" performed by Cantika Abigail, "Song Of Goodbye" performed by Ivan Gojaya, and "Hampir Sempurna" performed by Rendy Pandugo. Oendari is also known for her song “Untuk Mama”, the one that she composed for the popular Ernest Prakasa's “Susah Sinyal” (2017), performed by Aurora Ribero.
Oendari, who is also a vocal arranger and vocal director, has collaborated with many notable performers, arrangers, and producers, such as Titiek Puspa, Momo Geisha, Sheryl Sheinafia, Andi Rianto, and Steve Lillywhite. The latest project she directed which unexpectedly gained global attention, “Lathi” (2020), performed by Weird Genius and Sara Fajira, has made a new record as the longest running #1 song in Spotify’s Indonesia Chart for six consecutive weeks.
The experience she had from all the projects she contributed in have shaped the musical style she is now comfortable with, where listeners can immediately connect and resonate with her melodic approach and thought-provoking soundscapes.

Beberapa Tautan dan Referensi terkait Oendari


Playlist berisi kumpulan songwriting Oendari :

https://open.spotify.com/playlist/2Ez3yd4JIscM0IrP1sdASf?si=QgXhwUGWRGaNdB3Jyl-4tA


Channel YouTube pribadi Oendari :

https://www.youtube.com/channel/UC4XNb0IpmoDIhygftxTZLBg


Channel YouTube Big Hello Records :

https://www.youtube.com/c/karawaciPROJECTsBigHelloRecords


Instagram :

https://www.instagram.com/oendari/?hl=en

https://www.instagram.com/roemahiponk/?hl=en

https://www.instagram.com/bighellorecords/?hl=en


Liputan online :

Felix Dass

https://felixdass.com/2014/06/23/selamatpagimalam/

Alexander Kusuma Praja untuk majalah Nylon Indonesia

https://alkupra.wordpress.com/2014/10/12/on-the-records-agustin-oendari/

Liputan produksi Galih Dan Ratna

https://hai.grid.id/read/07593594/ngulik-cerita-di-balik-soundtrack-film-galih-ratna-semuanya-serba-kebetulan-euy?page=all

Talk Show Beauty Fest 2018

https://www.popbela.com/fashion/style-trends/lindyra-cesara/bfa2018-mengenal-lebih-dalam-sosok-agustin-oendari/2

Siasat Partikelir untuk LSHW

https://siasatpartikelir.com/menyusuri-perjalanan-romansa-cinta-bersama-agustin-oendari/

Liputan album One Million Stars milik Rising Stars Indonesia

https://today.line.me/id/pc/article/One+Million+Stars+Rilis+Ulang+Lagu+Berharap+Tak+Berpisah+Milik+Reza+Artamevia-PQ1yNM


Salam untuk Teman-teman DISTORSI


Menutup profil dan kisahnya, Oendari menyempatkan harapan semoga teman-teman DISTORSI selalu dalam keadaan sehat dan bersemangat selalu. Ia menyampaikan terima kasih karena sudah menyempatkan waktu untuk menyapanya dan permohonan maaf apabila ia belakangan belum aktif lagi di grup karena ada beberapa deadlines yang harus diselesaikan segera dan berjanji begitu sudah lebih lowong, pasti Oendari akan mampir lagi.


Salam DISTORSI! :)

80 views

©2019 by iWmotion